banner 728x250

CERITA RAKYAT : LEGENDA JATIBANTENG BAG : 02

banner 120x600
banner 468x60

DICERITAKAN, sebelum terjadinya pertempuran antara gerombolan banteng dengan Rombongan Ki Patih Alos atau Raden Bagus Khasyim, kisah perjalanan diawali oleh bertemunya rombongan ini dengan se ekor banteng yang bulunya berbeda dengan bulu banteng biasanya. Banteng itu berbulu hitam dan ada warna putih atau biasa disebut blorok. Konon, hewan liar itu di ikuti gerombolan banteng, tapi agak berjauhan. Mengingat, Raden Bagus Khasyim  memiliki kejunilan dengan ilmu dan senjata KASMARAN, banteng blorok itu tidak menyerang, melainkan seraya menunjukkan jalan pada rombongan untuk semakin jauh masuk kedalam hutan. Daerah ini lalu disebut daerah Blorok, kemudian seiring berjalan nya zaman, daerah ini menjadi BLORO dan kini dikenal dengan Desa Bloro.

DICERITAKAN, setelah dari daerah ini, rombongan terus meringsek masuk kedalam hutan belantara. Banteng itu dikejar ke selatan, lalu kemudian, rombongan Raden Bagus Khasyim dengan 8 santrinya ini, memilih untuk beristirahat di sekitar sumber mata air yang mana tempat itu kemudian disebut TAMAN PETAK. Mengapa disebut nama itu, karena ketika duduk beristirahat, Raden Bagus Khasyim menjentik kan jarinya( petak) seraya berkata bahwa di dekatnya ada sumber mata air untuk bisa mengambil wuduk.

banner 325x300

Ilustrasi Kalimat Ki Patih Alis :

“Plek…. (Jentikan jari)      Santri santriku, coba kalian kesana, sepertinya disana ada sumber mata air. Kita akan membersihkan diri sambil berwuduk disana. Sepertinya sumbernya agak besar.  Kita sholat dhuhur disekitar tempat ini,  ” pinta Raden Bagus Khasyim pada santrinya.

DICERITAKAN, setelah merasa sudah cukup melepas lelah, rombongan ini melangkah kembali menuju selatan, semakin jauh masuk kedalam hutan belantara. Nah, setibanya di sebuah tempat, Raden Bagus Khasyim menghentikan langkahnya. Sang guru ini berkata kepada santri yang mengikuti nya agar lebih waspada. Wejangan disampaikan, yang menurut cerita itu merupakan Dauh atau debu dalam bahasa madura. Daerah ini kemudian disebut Dauh yang kemudian menjadi sebuah sebutan dusun, bernama Dusun Dauh.

Ilustrasi dauh Ki Patih Alos :

” Santri santri ku…. kita harus lebih waspada dengan segala kemungkinan. Jangan putus berdzikir, menybutkan kalimat toyibah, agar kita selalu dilindungi oleh Gusti Alloh.  Ingat..!!, jangan bertindak sendiri sendiri…. tetap bersatu, agar perjuangan ini membuahkan hasil sesuai harapan….. **dauh Raden Bagus Khasyim.

DICERITAKAN, selepas itu, sekitar waktu menjelang waktu Ashar, ketika mulai memasuki kawasan hutan jati, rombongan ini bertemu dengan se gerombolan banteng dengan ukuran besar besar. Konon, dibawah pohon jati besar itulah, sarang para Banteng liar. Melihat kedatangan rombongan ini, segerombolan banteng itu, tiba tiba menyerang. Pertempuran pun tidak dapat dihindari. Banteng banteng itu menyerang Raden Bagus Khasyim dan kedelapan santrinya. Namun, dalam pertempuran itu, gerombolan banteng liar berhasil dipukul mundur. Banyak banteng yang terluka, mereka lari kearah timur selatan, semakin jauh masuk ketengah hutan belantara.

DICERITAKAN, setelah pertempuran itu, rombongan ini memilih istirahat disekitar area pertempuran, sambil lalu membuka lahan untuk persiapan sholat Ashar . … (Bersambung)

banner 325x300
READ  CERITA RAKYAT : LEGENDA JATIBANTENG. BAG : 03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *