banner 728x250

CERITA RAKYAT : LEGENDA JATIBANTENG. BAG : 03

banner 120x600
banner 468x60

DICERITAKAN, setelah pertempuran itu, rombongan ini memilih istirahat disekitar area pertempuran, sambil lalu membuka lahan untuk persiapan sholat Ashar berjamaah. Sebagian santri membuat tempat sholat, sebagian lagi diutus untuk menengok sumber mata air yang tidak jauh dari pohon beringin besar. Sumber mata air itu, tepatnya kini berlokasi dibelakang pasar rakyat Jati banteng. Mengingat waktu dirasa begitu tidak memungkinkan untuk terus mengejar banteng yang kabur, rombongan ini lalu memilih untuk mendirikan tempat ibadah dengan bahan seadanya. Dengan  memperkokoh tempat itu, maka tempat itu juga dijadikan tempat bermalam usai melaksanakan sholat fardhu.

Ilustrasi dauh Raden Bagus Khasyim :

banner 325x300

” Kita istirahat disini…. Kita tidak usah mengejar banteng banteng itu… sebentar lagi sepertinya sudah masuk waktu sholat Magrib… Perkokoh gubuk ini, untuk dijadikan tempat kita bermalan..Ingat..!!. Kalian tetap waspada…** ucap Ki Patih Alos

DICERITAKAN, tempat sholat berjamaah yang juga menjadi tempat bermalam rombongan itu, bentuknya seperti surau atau langgar. Saat ini, tempat itu dikenal sebagai langgar / surau pertama dan seiring berjalannya waktu, kini menjadi Masjid Jamik. Sementara, daerah pertempuran dimana ada pohon Jati besar dan gerombolan banteng liar, daerah itu disebut dengan Pohon Jati dan Hewan Banteng  atau Jati dan Banteng  lalu diringkes menjadi kata JATIBANTENG. Didaerah itu, berdiri kokoh pohon jati besar dan pohon beringin besar. Sehingga tidak heran jika gerombolan banteng menjadikannya tempat atau sarang mereka. Tak jauh dari pohon beringin yang sebelah utara, ada sumber mata air yang dijadikan tempat berwuduk oleh rombongan dari Delem Tengah ini.

Ilustrasi Kalimat Ki Patih Alos :

” Mengingat dimana rombongan kita bertemu dengan gerombolan banteng. dan ditempat ini pula kita bertarung melawan nya, Serta kita diberi keselamatan dan dapat mengalahkan nya.. maka tempat ini saya beri nama JATIBANTENG……., begitu kira kira dauh atau debu dari Raden Bagus Khasyim.

DICERITAKAN, di suatu malam ketika rombongan ini berada di tanah babatan Jatibanteng, terdengar suara gauman yang menggelegar memecah keheningan hutan belantara. Suarnya jelas terdengar ke tanah babatan Jatibanteng, suara itu seperti suara ular raksasa. Ketika Ki Patih Alos berkonsentrasi dalam doanya, mucullah seorang wanita yang konon merupakan bangsa ghoib bernama Dewi Rengganis. Wanita ini menyampaikan agar rombongan ini lebih waspada, karena suara gauman itu berasal dari atas bukit, suara itu adalah gauman hewan buas Nogo Sromo ( Naga betina). Sehingga, kesesatan hatinya, KI Patih Alos mengumpulkan 8 santrinya menceritakan petunjuk semalam.

Ilustrasi cerita itu :

” Dalam petunjuk semalam, gauman itu adalah suara dari se ekor naga. Naga itu berjenis betina. Naga itu adalah Nogo Sromo yang mengaum karna mencium bau darah. Mungkin itu bau darah banteng yang terluka….. Nanti malam kita bermunajad kepada Gusti Alloh agar rombongan ini selalu dalam lindungannya… **ucap Raden Bagus Khasyim.

Diceritakan, pada ke esokan harinya, Raden Bagus Khasyim langsung mengajak rombongan ini kembali melanjutkan pembabatan hutan dengan menyusuri hutan  jati, memperluas tanah babatan melalu sisi bagian timur. Singaktanya, ditengah perjalanan, didapati sumber mata air yang cukup besar dan tempat itu disebut sumber mata air yang baru atau SUMBER ANYAR. Lalu kemudian, rombongan ini tiba di atas bukit dan mendadak mencium aroma tidak sedap  seperri bau bangkai. Merasa kurang nyaman, rombongan ini memilih istrahat sebentar. Tempat ini kemudian disebut BASEAN, kata yang berasal dari becengan ( bahasa madura), kemudian ketika mencari tau asal bau itu, rombongan ini mendapati tumpukan banteng yang sudah mati. Bangkai banteng lalu dikubur, yang mana Lokasi ini kemudian disebut Banteng Mati.

DICERITAKAN, usai mengubur banteng mati, Raden Bagus Khasyim lalu mengumpulkan para santri di sebuah tempat dan menyampaikan bahwa sebelum kembali kembalinrurun ke daerah babatan JATIBANTENG, terlebih dulu  istrahat sembil lalu merancang  Angan atau cara terbaik, bagaimana agar Nogo Sromo tidak mengganggu penduduk yang nantinya hendak bercoxok tanam didaerah ini. Melalu ilmu kedigjayaan, ahirnya gauman Nogo Sromo, perlahan samar menjauh. Konon, sang naga  itu pergi menyusul pasangannya, sang naga jantan. Ular bernama Nogo Sromo itu konon masuk ke dalam gua di sebelah timur , dimana goa itu hingga kini masih misteri. Goa itu dikenal dengan sebutan daerah DaM Goa.

Ilustrasi dauh Raden Bagus Khasyim:

”  Wahai para santri…kita istirahat ditempat inj. Demi keamanan penduduk nantinya, kita harus memastikan bahaya dari ancaman naga itu tidak terjadi, dikemudian hari, maka ayo kiita berdoa bersama agar naga itu pergi jauh dan tidak kembali lagi ke kawasan tanah babatan ini……. ** Kata Raden Bagus Khasyim

DICERITAKAN, dari kejadian itu, tempat merancang angan tersebut kemudian . . .. (Bersambung)

banner 325x300
READ  Asal usul Nama Jatibanteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *